REPOSITORI BADAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

Studi Monitoring Efek Samping Obat Antituberkulosis FDC Kategori 1 di Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat

Sari, Ida Diana and Yuniar, Yuyun and Syaripuddin, Muhamad (2014) Studi Monitoring Efek Samping Obat Antituberkulosis FDC Kategori 1 di Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 24 (1). pp. 28-35. ISSN 0853-9987

[thumbnail of 20692-studi-monitoring-efek-samping-obat-antit-91f27059.pdf] Text
20692-studi-monitoring-efek-samping-obat-antit-91f27059.pdf

Download (230kB)

Abstract

Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan kasus Tuberkulosis (TB) Paru ditemukan merata di seluruh provinsi di Indonesia, sedangkan hasil Riskesdas 2010 menunjukkan prevalensi TB paru nasional adalah 725 per 100.000 penduduk. Salah satu penyebab putusnya terapi adalah efek samping obat. Hal ini menimbulkan resistensi kuman sehingga memperberat penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi efek samping akibat penggunaan obat antituberkulosis (OAT) dan kepatuhan pasien. Jenis penelitian adalah time series, dilakukan terhadap pasien baru penderita tuberkulosis di 10 puskesmas di Provinsi Banten dan Jawa Barat pada bulan Mei 2011. Pasien diikuti selama 6 bulan hingga periode
penelitian berakhir. Pasien diwawancara mengenai efek samping obat yang dialaminya setiap bulan saat mengambil obat atau kunjungan ke rumah oleh petugas puskesmas. Pemantauan kepatuhan dilakukan dengan menghitung obat sisa yang disimpan oleh pasien. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 92 pasien, semuanya masih patuh dalam menjalani terapi. Frekuensi kejadian efek samping yang paling sering timbul pada bulan pertama dan kelima yaitu mual; pada bulan kedua pusing; serta pada bulan ketiga, keempat dan keenam nyeri sendi. Efek samping lain yang sering timbul akibat penggunaan OAT yaitu mengantuk dan lemas pada bulan pertama, kedua dan ketiga. Berdasarkan hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan adanya pemantauan yang dilakukan petugas, efek samping yang terjadi dapat terdata dan tidak menyebabkan menurunnya kepatuhan pasien. Hal ini dapat terjadi karena adanya komunikasi yang baik antara pasien dengan petugas mengenai proses pengobatan TB. Disarankan agar pemantauan efek samping dan kepatuhan dilakukan dengan menekankan pada komunikasi pasien dengan petugas. Selain itu perlu dilakukan pemantauan laboratorium secara rutin.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Efek Samping, Obat Antituberkulosis (OAT), Tuberkulosis (TB) paru
Subjects: QS-QZ Preclinical sciences (NLM Classification) > QV Pharmacology
W Medicine and related subjects (NLM Classification) > WF Respiratory System > WF 140-900 Diseases of the Respiratory System
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan > Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Depositing User: K A
Date Deposited: 05 Apr 2024 05:01
Last Modified: 05 Apr 2024 05:01
URI: https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5333

Actions (login required)

View Item View Item